Archive for January, 2009

Cerita si Pecundang

Aku adalah bentuk kontrol yang salah. Di umur 17 tahun ini, kuanggap diriku telah menemukan jati diri yang sebenarnya. Tapi kurasa itu semua salah. Semua sangkaku salah. Semakin banyak aku membaca buku kehidupan, semakin banyak kutemukan perspektif hidup yang berbeda, dan dari situlah aku menyadari, aku tak pernah punya perspekstif sendiri akan kehidupan.

Apa yang kulakukan layaknya seorang pemuda yang gagal dalam kehidupan (pengangguran). Banyak bermimpi indah tanpa banyak bertindak. Bermimpi, ya bermimpi, itulah salah satu bagian dari jadwal hidupku sehari-hari. Yang kulakukan setiap hari hanyalah bermimpi banyak, dan menatap layar komputer berlama-lama. Apakah aku berkerja? Tidak. Ya, mungkin sekali-sekali. Selebihnya hanya dibungkus kertas dominan akan permainan dan ilmu-ilmu yang tak berguna.

“Apalah guna kau melakukan semua itu?”, jika ada yang bertanya. Dan aku tak pernah menjawab. Bukan karena tak bisa. Itu adalah cerita panjang yang kan berbalik menusukku lebih dari pertanyaan yang telah diajukan. Aku yang samasekali takpunya jiwa sosial, hanya bisa mengurung keinginan mempunyai segudang teman dalam kotak-kotak mimpiku. Ya itulah aku. Kesepian yang bertopeng dan ingin ditutupi lebih. Dan itulah pelampiasan akan kesepian yang meradang.

Lebih dari itu, aku terlalu paranoid untuk memiliki teman. Sindrom yang terjadi ketika aku memiliki seseorang, itu, bagiku sangat mengerikan. Awalnya, seperti biasa, dengan kesombongan/keangkuhanku, sedikit yang mau berkomunikasi denganku. Dan jujur, cara berkomunikasiku juga tergolong susah untuk dicarikan sinonim. Aku akan lebih banyak berkomunikasi dengan gaya 5-10 tahun lebih tua dari mereka atau lebih muda. Dengan wanita, entah kenapa, aku selalu tak ingin terlihat lemah, walaupun pada akhirnya justru kelemahanku semakin terlihat maka pastilah gaya dewasa tercipta. Dan dengan sesama lelaki, justru entah kenapa, sikapku justru kekanak-kanakan, kenapa lagi? Aku hanya ingin diterima normal. Dan pastilah aku bergaya balita.

Huh, buatku menciptakan kata “dengan”itu sangat susah. Karena itu aku adalah orang yang sangat mengagumi takdir. Aku menunggu takdir bertemanku datang, takdir menjadi pintar, takdir membuat puisi, takdir bertemu kekasih, takdir dimarahi seseorang, dan takdirku untuk mati. Dan untuk yang terakhir aku yakin. Ya, sangat yakin. Manusia-manusia penyakitan seperti diriku takkan mempunyai umur yang lama.

Meskipun dengan keyakinan kematian terus membuntutiku, tak pernah sekalipun aku mampu menebas keinginan untuk bermaksiat. ???. Aku menyadari ketika aku bermaksiat. Aku sadari itu penuh, dan aku menikmatinya dengan lebih penuh penghayatan. Seakan aku memang tak punya takdir kesurga.

Ada saatnya aku bosan menikmati dosa-dosa itu, dan aku pun terlelap dalam pahala-pahala yang aku bingung apakah aku pantas melakukannya. Aku merasa telah mempemainkan agama Tuhan. Aku sembahyang, tapi ketika pulang aku bergelimang dosa, Dia tahu, dan aku pun tahu Dia tahu.

Kembali pada komunikasi. Jiwaku yang penuh kesombongan buatan, yang bagiku sendiri merupakan ujian bagi orang-orang yang pantas mengenalku, tak lebih dari tirai tipis yang tak terlihat. Bagi mereka yang mengenalku aku adalah orang yang humoris ketika dikenal lebih dalam, pribadi dewasa yang terkurung dalam wajah balita (benarkah??), aku tak tahu. Tapi sekalipun, aku memang tak pernah tahu tujuanku berdiri.

Apa yang sebenarnya kucari? Kuinginkan? Hatiku yang polos lama-lama terkikis oleh batu kehidupan. Hatiku yang yang sekarang cacat! CACAT! Penuh luka dan goresan yang menyakitkan. Penuh kesombongan, kebohongan, dan kata-kata manis yang berbahaya.

Keberi satu contoh. Aku sangat menginginkan suatu kapasitas yang manusia modern menyebutnya dengan “pacar”. Ya, lebih tepatnya kekasih. Namun dalam agama yang aku anut, kata pacar itu akan menjurus kepada hal-hal negative yang mereka sebut dengan “zina”. Zina mata, zina hati, dan zina-zinaan lainnya. Setidaknya itulah yang kucari setelah wanita yang kucintai pergi. Mama.

Aku tahu aku punya banyak nafas yang memerhatikanku. Dan aku tahu aku bukan salah satu terpenting dan teratas. Karena itulah, aku terlalu banyak memiliki kasih sayang yang tak terlampiaskan. Dan kali ini, aku menangis. Manusia bisa saja hidup tanpa uang, tapi tanpa kasih sayang, kau tak lebih dari jiwa kering kerontang.

Hatiku miris, dunia ini seakan ditakdirkan memiliki satu garis lurus. Dan siapapun takkan bisa mencari arah lain. Dan aku, aku ini adalah benang rapuh yang berusaha selurus-lurusnya. Dan betapapun aku berusaha itu terjadi, justru aku tak mengenal diriku sendiri, dan semakin dekat untuk “terputus”.

Aku pernah memiliki seorang teman. Ya, “pernah”. Aku tak tahu aku masih menganggapnya teman dan sebaliknya atau tidak. Siapapun akan menyangka aku jatuh cinta. Kenapa? Karena ia berbeda jenis denganku. Aku terlalu overkasih sayang. Lebih-lebih dari seorang pacar. Penyakit yang pasti melanda setiap ada orang yang masuk kedalam sumur jiwaku. Akibatnya, rasa ketergantungan tercipta, rasa ingin terus diperhatikan, dan ingin terus bersama. Kuakui, siapa saja tak pantas menerima sikapku, karena itu adalah bentuk ungkapan kasih saying orang dewasa. Tak hanya terjadi sekali. Sudah untuk yang kedua!!

Aku tak mengerti, yang aku takutkan hanyalah kehilangan. Dan semakin kutakutkan, justru itulah yang terjadi. Kini semua sepi, kembali sendiri, seiring detik yang takkan pernah berhenti.

Jangan beri aku nasihat. Dalam kepalaku lebih dari sejuta nasihat terbaik yang pernah ada daripada yang akan orang berikan kepadaku. Lebih baik jitak kepalaku. Biar aku kembali teringat akan rasa sakit.

Aku merasa paling berbeda. Bukan beda dalam arti “lebih”, ini “kurang”. Aku terlalu banyak memiliki waktu luang. Sekalipun waktu adalah uang. Terlalu luang berarti dirimu miskin. Dan seluang-luangnya waktu itu. Itulah waktuku untuk merenung. Merenungi nasibku tak tak punya arah. Mimpi-mimpi yang terus bergairah, dan nyata realita yang tak bisa searah. Jiwa malas terus menjadikanku seorang lemah. Dan memang, aku adalah pecundang yang kalah.