Archive for August, 2008

Masa Indah di SMP (1)

Gu..gu..haa..haa..haa…
masuk SMP, peringkat ke-11. Masih inget, yang juara peringkat pertama namanya Siti Nurjanah Utami, NEMnya klo ga salah 45,sekian sekian. NEMnya fro sekitar 43,sekian sekian (T: deket ya fro??). Yapz…

Fro masuk dikelas 1-1, sebangku ma Saddam. Eh, fro da pengalaman lucu, di SD khan belnya lonceng besi tu, nah di SMP karna luas pake bel listrik. Tapi…he..he..pertama dengernya kirain ada orang jualan es krim, ga ngeh juga tu kalo suara bel padahal kuat gitu (F: mana ada orang jualan es krim pake TOA?? ha..ha..ha.
Kami (F: ma Saddam) keluar main-main. Rupanya salah satu calon teman sekelas ada yang negur. Tapi bukan fro, ma Saddam.
“Eh, kau masih inget ma aq??”
“Siapa?? Temen ngaji??”
“Bukan, masa ga inget??”
“Siapa ya??”
“Waktu Olimpiade Matematika itu loh!!”
“Oh iya aku inget..”
“Waktu itu kan, kita sama-sama ngejein si Icha…(F: salah satu calon temen juga”)
“iya, iya”
Kira-kira gitulah percakapannya. Oh iya, lupa ngasi tau nama yang negur, namanya Lipo Wisnu. Dan sesudah beberapa hal dan hal yang lainnya, kami masuk kelas (T: itu namanya, istirahatnya udah selesai F: iya, iya). Dikelas giliran fro yang mau kenalan.
“Hai!!”
“(menoleh) F: bukannya ni yang tadi??”
“Eh, namaku Rahmat. Rahmat Raditya Mutaqin”
“Namaku ‘Fro’”
“Namaku Saddam, Saddam Husein”
“Aku dari Aceh, kalian dari mana??”
“Rumah kami deket sini, didepan sekolah masuk gang lagi”
He..he..he, (T: kok bisa ngirain rahmat ma lipo sama?? F: dua-duanya jangkung!! T: oh!!)
Oke deh..fro mau nyoba mengingat semua temen-temen sekelas.
Pertama, Saddam (T: udah tau!), Mufadda (T: udah tau juga!), Dedek Dahlia, Dita Meitari, Nadia Kurnia Putri, Iqbal Alhuda ((T: kok itu semua, jangan-jangan ga da kawan baru ya??! F: ga, tadi cuma nyebutin yang lama-lama aja)

Yang baru, ada Eky Hanara Novendra (F: suka nyerempet jadi novender, panggilan Eky). Lucu ni orang. Duduk sebangku ma Mufadda. Agak manja, lumayan ganteng, lebih recoknya, luar biasa lucunya. Menurut fro, Eky ma Adam ada kembar-kembarnya, tapi entah dimana.

Tri Utami (F: Tami panggilannya, sebenarnya dulu teman ngaji tapi ga kenal). Kalo ingat Tami, mesti ingat sama pipinya yang tembem kayak roti (T: enak, empuk lagi F: dasar gila!).

Annisa Rizki Asrin (F: panggilannya Icha), atu lagi manusia yang tembem. Smart!! Brilliant!! Cuma engga akrab aja. Ni temen recoknya Adam.

Hadiah Kurnia Putri (F: panggilannya?? pertama manggilnya hadiah, terus puput). Sebangku seumur hidup ma Icha. Smart too!! and ga akrab juga. (T: bisanya akrab ma siapa dong?? F: tembok!!)

Ariyanto Aji Prihastono ketiban kelopo ora popo (F: he..he, 4 kata terakhir bo’ong). Panggilan Aji. Ni temen baek fro. Tapi akrabnya waktu kelas 3. Sebangku Iqbal.

Muhammad Rahman Yustiadi. (F: Panggilan Adi). Anaknya baek, baek, baek, gemuk, putih (T: tinggal dicincang aja fro!! F: capek ngetik bilang aja!!).

Mustaqim Ahmad. (F: Panggilan Taqim). Sebangkunya Adi. Rambutnya ikal, kurus, jago olahraga (F: setidaknya sepakbola T: alah, iri aja bilang ga pande main bola!!)

Dedi….(F: ??? lupa lengkapnya). Pokoknya dia baek, cuma rada2 nyalah. Kadang2 kumat sintingnya. Anak pengusaha tahu di dekat rumah kakek fro. Gayanya berantakan. Sebenarnya lebih tepat dikatakan lugu.

Irfandi (F: sibiang keladi, mafia di kelas). Imut==itam mutlak, tegap, tinggi, sayang pembuat onar! sebangku ma Dedi.

Hendrik Paulus Dewantara Hutagalung (F: hmmphh??!! kesal nulis namanya, kepanjangan). Siapapun tau panggilannya Hendrik. Pinter, cuma sedikit bermasalah luar dalam (F: dibilang sedikit engga juga, dibilang banyak?? iya, iya banyak aja deh!!). Dia absolut politikus kelas, dalam arti sebenarnya memang dia jago ngomong, ahli debat (F: jagonya buat orang marah), dan logika sarkastiknya yang khas tapi kadang menggelitik. Dikit sih yang sadar. Banyak suka ma cewek, cuma banyak cewek yang enggak suka (F: paradoks yang mutlak buat Hendrik, fro doain dapet jodoh yang terbaik buat Hendrik). Nah kalo dalam arti nyerempetnya, memang dia “tikus kelas”. Setidaknya sempat mendapat penghargaan buat itu. Fro tak tau benar pa ga. Cuma memang dia punya motto gini, “Barang-barang dia, kalo dimejaku ya punyaku!!”. (T: dahsyat ya ni orang!!)

Abdul Majid Syukri Matondang. (F: panggilan sekolah Majid, dirumah Oki, manggil diri sendiri Dimas T: ?? lho?? ga nyambung ya??). Putih, endut, pinter, lucu, hampir menyamai kemampuan berdebat hendrik, tapi dengan gayanya mikirnya yang kebanyakan lupa. Fro hampir tak tega kal ni anak disakiti. Bukan kenapa2, kasihan lihat muka sedihnya. Kalo udah pulang sekolah memang biasanya Fro, Majid ma Fadda bertiga. Fadda tinggi kurus, Majid gendut tingginya sedang, Fro kecil pendek. (T: bisa dibayangkan!!)

Ray Suci Lestari. (F: panggilan Tari). Bingung mau mendeskripsikan ni anak gimana??

Puji Pangestu Manja Sari. (F: Panggilan Puji). Fro ma Adam paling rajin ngobrolin soal Puji, ya setidaknya waktu kelas 1. Matanya sipit kayak cina (F: sebenarnya dulu julukan fro juga gitu). Cantik (F: kalo engga, boro2 mau diobrolin T: wajar lagi puber!! F: Adam entah, la awak ya belum). Aneh (F: ni topik utamanya!! ha3x) .

Zulfiyana (F: panggilan Yana). Suka latah, guru2 suka kali gangguin ni anak. Sebangku Puji.

Khairul Malika (F: panggilannya Embun T: lho?? kawannya fro aneh2??). Ya memang sedikit kayak embun. Lembutnya yang pantas menjadikan namanya embun. Setidaknya ada orang yang hatinya berembun gara-gara embun (T: apaan seh ni ceritanya??)

Fadilatul Husna (F: panggilannya Bedil….tapi bo’ong. Iseng2 kawan aja manggilnya gitu. Ya Dila!) Tinggi. Just it. I wanna tell ’bout her more later.

Siti Nurjanah Utami (F: Panggilan Janah). I gonna write her more later, too.

Berliana Nasution. (F: panggilan ya Berliana). Nothin’ bout her. Ga akrab. Ngomong ma ni anak hitungan jari aja.

Yang laen ada Tiwi, Supriyanto, Pangondian Harahap, Yusuf Nuriono, Fandi Ahmad, Suwandi Napitupulu, dll.

Oke, begitulah perkenalan dengan teman2 fro

Takkan Pernah Mati

Kupersembahkan untuk cahaya yang telah pergi..
Selamanya kan bersinar di hati ini..
Takkan pernah mati


Kuluruh basah dengan senyummu, tapi hangat dipeluk tubuhku
Berlari tanpa arah di genggammu, takkan ada kata jatuh buatku

Lihatlah matahariku, bersinar hingga malam tiba
Dimana? dihatiku, selamanya

Terkemas sedih lukaku, seluruh kenangan pahit itu
Menyudutkannya dalam ruang tanpa cahaya,
Kutenggalamkan dalam pagoda acuh
Kutertawa, karna dirimu yang bagiku sangat berharga

Kupanjat langit harapan, untuk apa?
Untuk melihatmu tertawa, cahaya pelangiku
Dirimu selalu hadir di tiap habis hujanku
Menertawakanku dalam kebodohanku
dan aku ikut tertawa, itu indah kan, cahaya?

Mengaduh sakit, cahayaku pergi,
Karna kupadamkan lilin tanpa sengaja,
Cahayaku berkerlap kerlip, tertawa, melihatku menangis sedu
Kenapa? itu hanya bercanda, aku tertawa, indah bukan?

Cahayaku meredup, giliranku untuk benderang
Dengan sejuta bintang dihatiku, dengan sejuta cinta pula,
Kubakar batinku untuk membahagiakanmu

Cahaya, ada lagi yang ingin kuucapkan padamu,
Aku sayang kamu

Takkan pernah mati cahaya dihatiku, untukmu selalu, selamanya, iya kan?

Keabadianku

Keabadianku
Adalah kesedihan tanpa akhir
Keabadianku
Adalah kesetiaan pada kesedihan
Keabadianku
Adalah kegelapan yang begitu setia
Keabadianku
Adalah terkurung dalam kegelapan
Keabadianku
Adalah cinta yang terkurung
Keabadianku
Adalah murka-Nya atas cintaku…

DILEMA

Haruskah asa ini menjadi nyata
Tapi kutakutkan akhir yang penuh derita
Tak sanggup kuucapkan padamu
Maka maafkanlah jika hanya berkias dusta
Dari sumpahmu kuyakinkan diriku
Bahwa ku tak pantas milikimu
Dari masa kita kubulatkan tekad
Tuk ciptakan akhir kasih sayang
Bukannya cahyamu telah padam
Namun terlalu terang bagi rohku
Portal yang kita tuju sama tapi berbeda
Sungguh bahagianya mengenalmu
Aku bukanlah yang terbaik
Sekalipun memang yang terburuk
Dinda terlalu menikmati topengku
Hingga lupa pada hakikat hidupmu
Sekalipun aku adalah pangeran mudamu
Dimasamu nanti…Kan
Kau temukan yang terbaik
Bahkan lebih segala dariku
Jikapun takdirmu adalah aku
Kelak aku akan datang menghamba padamu
Kukatakan jujur padamu
Bahwa singgasanamu telah tergantikan
Sekalipun itu mahkota mu…
Telah kusimpan di memori terindah
Sampai nanti kupilih pemakainya
Sampai nanti baru aku mengucap sumpah setia

Jeritan Kosong

Hei Langit!
Tinggimu, apa membesarkan hatimu?
Kemampuanmu, apa melebihi penciptamu?

Hei Langit!
Aku manusia tapi berada di derajat berbeda.
Aku manusia tapi hargai sama benda

Hei langit!
Beritahu penciptamu,
Kapan derajat kami sama
Kapan kami memiliki nyawa sebenarnya

Heii!
Siapapun engkau!
Dengarkan jeritan kosong kami

Sesama kami tanamkan bahagia,
Sesama kami tanamkan luka
Kenapa?

Sesama kami ajarkan nirwana,
Sesama kami berikan derita
Mengapa?

Kami sanjung keadilan,
Itu tidak ada kan?
Kami berdiri tunjukkan kejujuran,
Tidak kelihatan kan?
Kau elu-elukan kebenaran,
MUNAFIK DOANK!

Ras kami berdarah biru,
Makannya sampah juga
Gen kami jenius rata-rata,
Mental kuli semua

Ini bukan pembeda,
Tapi jurang pemisah,
Pemisah?

Realita, Realita N Realita Guys!

Membaca realita di porak-poranda dunia
Apalah guna?
Teriakkan kebenaran di kegelapan mata
Apalah makna?
Kita semua hanya boneka
Dan dalangnya ada di Amerika
Loe tau sapa dia?
Dia kayak dewa
Dewa kegelapan
Let’s guys bicara soal realita
Biar nampak keren
Yeah, walau cuma omong belaka
Loe dah pada tau ga’?
Petinggi kita dah pada gila semua
Ga penting mo pres, wapres, guru r bos loe
Uang memang air laut
Ntar lagi kita jadi udang semua
Mudah-mudahan ga otaknya doang
Tapi badannya sekalian biar bisa berenang

Lain lagi cerita kita anak muda
Selain cinta ada juga narkoba
Ga ada matinya!
Yang cinta jauh basinya
Yang narkoba cepet matinya
Loe mo pilih yang mana sama aja
Yang cinta maksiatnya memang gila
Yang narkoba lukanya tiada terkira

Mo denger cerita bokap nyokap kita?
Maaana ada cinta tanpa uang
Money r mani, cuma beda tulisan bro!
Jijik bangets dengernya
Hem…!?
Walau gue darisana juga
Mendingan kita sama-sama dengerin
Apa kata kata kakek Khalil Gibran
O yeah!
Dari KDRT sampek omak-omak tega buang anaknya
Mending anaknya mati jadi bangke’
Daripada ngemis, cuma ngotori
Indonesia yang dah kotor
Tapi ga pa2 kalaw bisa jadi slave di rumah gua
Ga capek kerja dirumah
Gimana lagi coba?
Memang Indonesia mental budak semua

Mo denger lagi cerita anak-anak kecil?
Kalaw loe punya adek
Bagusan beliin Barbie r robot2an banyak2
Daripada tamat patah tulang r mati tebelah dua
Ingus masih ngelap di baju juga!
Tu gara2 loe juga sih
Nonton manusia ‘ayam’ sabungan
Ga asik tau!
Pacar loe bakal ngira satu keluarga sadisme semua
Ga lucu khan??!!
Kita semua dah over
The end become game over
So buat apa susah2?
Be better life in the sky bro!

Mimpi

Dalam selimut semua terlelap
Antara mimpi dan kenyataan
Hanya segaris lurus
Ketika tabir harus menutup
Melihat sketsa hitam
Sedetik hilang saat terjaga
Membawa kedunia yang dipuja angan
Bahagia hanya ilusi
Dan terbangun dengan derasnya peluh
Ketakutan memang mendebarkan
Dan terbangun dalam siaga
Hanya sesaat lantunkan renungan
Kemudian hilang terbang
Semua sirna dalam perjalanan waktu
Diantara itu ada yang tertawa
Semua cuma mimpi…
Cuma mimpi !

Kasih Sayang yang Hilang

Hanya bermimpi yang kutahu
Dalam nista hina diriku
Masih juga kuharap hadirnya
Dalam dekap yang tak mungin kudapat
Saat ini aku diam terpaku
Renungkan apa makna perjalanan ini
Sentuhan yang telah hilang
Mana mungkin kudapat
Bayangan itu hadir sebagai wujud yang lain
Terpungkiri akan bahagia sesaat
Bukan dia sebagai dia
Tapi arti lain yang kuanggap
Tak ingin lagi menyakiti
Jiwa lain yang tak menyakini
Bahwa cintaku adalah semu
Bahwa cinta bertepuk sebelah tangan
Sudah cukup dan kuakhiri
Karena hanya dirimu
Karena hanya cahayamu
Karena hanya sebagai mimpi
Kuanggap sebagai luka
Akan rindu yang terkungkung
Dalam kasih sayang yang hilang

Hujan

Tertegun aku saat hujan
Dari yang tak berujung
Turun layaknya air mata
Sembunyikan mentari dari peraduannya
Dan simfonikan amarah yang menggelegar
Terhanyut aku saat hujan
Sepertinya tahu perasaanku
Yang ingin menangis sepanjang waktu
Semakin deras hempasannya
Sama, aku pun dendamku
Berbisik aku pada hujan
Adakah yang menunggu kedatanganku
Merindu tak lepas hanyalah semu
Berbisik aku pada hujan
Agar sampai do’aku pada Peanugrahnya
Karena air mataku luruh nan merah

Fajar

Menunggu sampai malam tiba
Gelapnya kan sadarkan aku
Bahwa cahya begitu berharga
Namun apa, aku yang selalu ragu
Tertuntun sepi dalam selimutmu
Yang hangat tapi terlupakan
Saat gulita yang melelapkan
Yang dera serta mengingatkan
Diufuknya masih memandang
Saat bintang harapan pertama tampak
Suarakan keinginan manusia
Saat terbuai dan dicampakkan
Dipelupuk hatiku masih terkenang
Yang indah dan tertinggalkan waktu
Diujung sana bintang kita berakhir
Terjatuh namun memberi pesona
Menunggu sampai fajar tiba
Terduduk disampingmu meraba
Menanti hingga kau terjaga
Mentari datang dan aku pergi

« Previous entries