Archive for Kahlil Gibran

Binatang Tak Berkata

Ketika melihat seekor bintang tak berkata, ada misteri yang hanya bisa aditangkap sepenuhnya oleh jiwa yang suci.

Di keremangan senja suatu hari yang indah, ketika pikiranku melayang, aku melewati ujung kota, berhenti di depan rumah yang tinggal puing-puing.

Di tengah puing iotu, aku melihat seekor anjing berbaring di kubangan debu dan kotoran. Kulitnya penuh luka, tubuhnya yang lemah digerogati penyakit. Sejak siang hingga matahari terbenam, mata kuyunya yang sangat memelas, menyiratkan kekecewaan dan penderitaan.

Aku berjalan pelan-pelan mendekatinya. Aku sedikit mengetahui bahasa binatang, aku ingin berbincang-bincang dengannya. Tapi dia justru menanggapi lain, berusaha berdiri di atas kakinya yang lumpuh. Terjatuh! Kemudian ia menatapku, marah, putus asa, dan nampaknya ia meminta pertolongan. Sorot mata seperti itu lebih jelas daripada kata-kata manusia dan lebih menggerakkan daripada air mata perempuan. Inilah yang aku tangkap darinya, ia ingin mengatakan:

“hai manusia, aku telah lama menderita karena perilakumu yang brutal dan aniaya. Aku lari dari kakimu yang kasar dan memilih tinggal di sini karena debu dan abu lebih ksatria daripada hati manusia. Reruntuhan ini lebih membahagiakan jiwaku. Pergilah, engkau adalah pendatang dari dunia yang tak punya aturan dan rasa keadilan.

Aku makhluk sengsara yang patuh dan tunduk mengabdi pada anak Adam. Aku menjadi teman setia makhluk sejenismu, aku menjaganya siang dan malam. Aku bersedih jika ia pergi, dan aku akan menyambut kedatangannya dengan sukacita. Aku kecewa jika tuanku hanya memberi sampah, sebaliknya aku tersenyum ceria jika tulang-tulang berjatuhan dari sela-sela giginya. Namun ketika aku beranjak tua dan sakit-sakitan, dia menyingkirkanku dari rumahnya dan menyerahkannya pada anak-anak jalanan yang menderita.

Oh, anak Adam, aku melihat ada kesamaan antara diriku dan temanmu itu saat usia lanjut telah memakannya. Terdapat banyak tentara yang sewaktu mudanya mati-matian membela negaranya, dan akhirnya bersanding dengan tanah. Akan tetapi hidupnya adalah musim dingin dan tenaga mereka tidak lagi berguna. Mereka ditolak.

Aku melihat kesamaan kaumku dan seorang perempuan yang selama hidupnya selalu menghibur laki-laki muda dengan cintanya, lalu menghabiskan waktunya untuk anak-anak mereka, kemudian saat semakin renta, ia dicampakkan dan disingkkirnkan. betapa kejamnya engkau ini, hai anak Adam. Sangat kasar!”

Itulah ungkapan isi hati seekor anjing yang dapat aku mengerti.

Bangsa yang Celaka

Celakalah bangsa yang pergi dari agama menuju kepercayaan, dari jalan desa menuju lorong kota, dan dari kebijaksanaan menuju logika.

Celakalah bangsa yang tidak memintal apa yang dipakainya, tidak menanam apa yang dimakannya, dan tidak memeras anggur yang diminumnya.

Celakalah bangsa taklukan yang memandang kemeriahan penakluk sebagai kesempurnaan kebajikan dan keburukannya sebagai keindahan.

Celakalah bangsa yang tidak berseru kecuali saat penguburan, yang hanya memperlihatkan penghormatan di kuburan, dan yang baru memberontak ketika lehernya telah ditempeli oleh pedang.

Celakalah bangsa yang menggunakan politik ti[u daya, yang filsafatnya adalh sulapan, dan yang pekerjaannya menambal sulam.

Celakalah bangsa yang menyambut penakluk dengan seruling dan genderang, kemudian mengusirnya untuk menyambut penakluk lain dengan terompet dan nyanyian.

Celakalah bangsa yang cerdik pandai membisu, yang juaranya buta, dan yang penasihatnya pandai membual.

Celakalah bangsa yang setiap sukunya mengaku sebagai bangsa.

Ketika Katak Membisu


Suatu hari di musim panas, seekor katak berkata pada pasangannya, “Aku takut mereka yang hidup di rumah di atas pantai itu terganggu oleh nyanyian-nyanyian malam kita.”

Pasangannya menjawab dengan berkata, “Baiklah tapi apakah mereka juga tidak menggangu keheningan kita di siang hari dengan perkataan merekla?”

Katak itu berkata lagi, “Jangan lupa bahwa kita bisa saja terlalu banyak bernyanyi di malam hari.”

Pasangannya menjawab, “Jangan kita lupakan juga mereka berbincang-bincang dan berteriak di siang hari.”

Katak berkata lagi, “Bagaimana dengan katak betung yang mengganggu seluruh tetangga dengan suara nyaring yang dilarang Tuhan?”

Pasangan menjawab, “Iya, dan apa yang akan engkau katakan tentang politikus, pendeta, dan ilmuwan yang datang ke pantai dan memenuhi udara dengan suara mereka yang tanpa irama?”

Kemudian katak berkata, “Baiklah, mari kita memperbaiki diri lebih baik daripada manusia-manusia ini. Marilah kita diam di malam hari, meski bulan meminta irama kita dan juga bintang-bintang. Paling tidak, marilah kita diam untuk satu atau dua malam, atau bahkan untuk tiga malam.”

Pasangannya berkata, “Baiklah, aku setuju. Kita akan melihat apa yang akan terjadi dengan hatimu yang penuh rahmat itu.”

Malam itu katak-katak membisu, mereka juga membisu di malam berikutnya, dan juga di malam ketiga.

Kemudian keanehan terjadi. Perempuan cerewet yang hidup di rumah pinggir danau turun untuk makan pagi di hari ketiga, dan berkata pada suaminya, “Aku tidak dapat tidur tiga malam ini karena aku hanya dapat tidur lelap ketika suara-suara katak hadir di telingaku. tetapi tampaknya sesuatu sedang terjadi. Mereka tidak lagi menyanyi selama tiga malam, dan aku hampir gila dengan kegelisahan ini.”

Katak mendengar ini dan menoleh pada pasangannya seraya berkata dengan kedipan matanya, “Dan kita juga hampir gila dengan kebisuan kita, iya kan?”

Pasangannya itu menjawab, “Ya keheningan malam memberati kita. Aku dapat melihat sekarang bahwa kita tak perlu berhenti bernyanyi hanya untuk menyenangkan orang-orang yang perlu mengisi keheningan mereka dengan suara-suara.”

Malam itu bulan tak lagi meminta dengan susah payah irama mereka, demikian juga bintang-bintang.

Empat Ekor Katak


Kisah empat ekor katak sedang duduk-duduk diatas sebatang kayu yang mengantung di atas sugai. Tiba-tiba batang itu patah dan terbawa arus, ikut mengalir bersama air. Katak-katak itu begitu senang dan gembira karena mereka belum pernah berlayar sebelumnya.”

Kemudian katak yang kedua ikut bicara, katanya, “Buka sahabatku, batang kayu ini seperti yang lainnya juga, dan ia tak bergerak. Sungailah yang bergerak melangkah mengalir menuju ke laut, dan membawa kit serta batang kayu ini bersama-sama.”
Katak ketiga berbicara menyahut, katanya, “Batang kayu maupun sungai ini tidak bergerak. Yang bergerak itu adalah pikiran kita. Karena tanpa pikiran tak ada yang dapat bergerak.”

Dan ketiga katak itu mulai bertengkar tentang apa yang sebenarnya bergerak. Percekcokan itu semakin memanas dan memuncak, tetapi mereka tak juga mencapai kata sepakat.

Kemudian mereka menoleh pada katak keempat, yang sampai saat itu hanya mendengar penuh perhatian dalam diam, dan mereka menanyakan pendapatnya.

Katak keempat pun berkata,”Kalian semua benar dan tak ada yang salah. Yang bergerak memang kayu, air, serta pikiran kita juga.”

Ketiga katak itu menjadi semakin marah, tak ada satupun dari mereka yang mau mengakui bahwa diri merak tidak sepenuhnya benar, dan tidak sepenuhnya salah.
Kemudian terjadilah peristiwa aneh. Ketiga katak itu bersama-sama mendorong katak keempat dari batang kayu, hingga tercebur ke dalam sungai.

Aforisme


Perbedaan antara orang yang terkaya dengan termiskin hanyalah sebatas lapar sehari dan sehaus sejam.
Alangkah butanya dia yang memberimu dari kantongnya agar dia bias mengambil dari hatimu.
Jaring-jaring hukum dirancang untuk menangkap penjahat-penjahat kecil saja.

Ibu dan Anak Pengigau


Di kota tempat aku dilahirkan, hidup seorang perempuan dan seorang anak perempuan yang memilki kebiasaan berjalan dalam keadaan tidur.

Suatu malam, ketika sepi sedang mencekam bumi, perempuan dan anaknya itu berjalan dalam keadaan tidur, dan bertemu di tanah datar di taman dekat rumah mereka.

Si ibu berkata, “Ini dia, ya inilah dia musuhku! Engkaulah yang telah menghancurkan masa mudaku, yang membangun kehidupan di reruntuhan kehidupanku! Aku pasti akan membunuhmu!”

Si anak juga berbicara, “Wahai perempuan yang penuh dengki, engkau tua dan licik! Yang telah memisahkan jiwa kebebasan dari diriku! Yang telah menjadikan hidupku bagai hidupmu sendiri yang gagal! Mampuslah engkau!”

Tepat pada saat itu ayam jantan berkokok dan membangunkan keduanya. Sang ibu berkata dengan lembut, “Engkaukah itu manis?” Dan sang anak juga membalas dengan lembut, “Ya, ibuku sayang.”

Lebanonmu-Lebanonku

Engkau memiliki ebanonmu dengan dilemanya. Sementara aku memiliki Lebanonku dengan keindahannya.
Engkau memiliki Lebanonmu dengan segala konflik yang berkecamuk disana. Engkau memiliki Lebanon, aku terima itu. Sementara aku memilki Lebanon dan aku tidak terima apa pn lannya kecuali abstrak absolutnya.

Lebanonmu adalah simpul politis yang selama bertahun-tahun dicoba untuk diuraikan. Lebanonku terdiri dan bukit-bukit yang menjulang dengan wibawa besar dan agung ke langit biru.
Lebanonmu adalah maslah internasional yang dirundung bayang-bayang malam. Lebanonku terdiri dari lembah-lembah sunyi dan misterius, yang lereng-lerengnya mengandung suara lonceng-lonceng dan gemericik sungai-sungai.
Lebanonmu adalah padang perkelahian, dimana orang-orang dari Barat berperang dengan orang-orng Selatan. Lebanonku adalah doa bersayap yang mengambang di pagi hari ketika para gembala mngiring kawanan mereka ke padang, kemudian terbang di petang hari ketika para petani kembali dari ladang-ladang mereka dan kebun-kebun anggur mereka.
Lebanonmu adalah perintah gurita dengan banyak belalai. Lebanonku adalah bukit tenang dan anggun yang terletak antara laut dan dataran seperti penyair diantara pencipta dan keabadian.
Lebanonmu adalah sebuah tipuan dari Ajak ketika dia bertmu dengan Hyena, dan Hyena berencana jahat terhadap serigala. Lebanonku terdiri dari kenangan-kenangan yang mengingatkan aku pada nyanyian gadis-gadis muda di malam bulan purnama, dan nyanyian-nyanyian gadis-gadis kecil di antara penebar gandum dan oemeras anggur.
Lebanonmu adalah papan catur yang diletakkan di antara seorang pemimpin agama denan seorang pemimpin militer. Lebanonku adalah seorang kuil yang kau kunjungi di dalam batinku, ketika pandangan mataku letih dengan wajah perdaban yang bergerak maju di atas roda-roda.
Lebanonmu adalah satu orang yang membayar upeti dan seorang lainnya yang memungut pajak. Lebanonku adalahsatu orang yan kepalanya dipangku oleh lengannya, bersantai dalam bayang-bayang pohon cedar, lupa akan segala, kecuali Tuhan dan cahaya matahari.
Lebanonmu hidup dari kapal-kapal dan perdagangan. Lebanonku adalah pikiran yang jauh, hasrat yang hangat, dan sepatah kata mulia yang dibisikkan bumi di telinga alam semesta.
Lebaonmu terdiri dari sekretaris, pekerja, dan direktur. Lebanonku adalah kegagahan muda, kekutan tengah baya, dan kearifan tua.
Lebanonmu adalah sebuah negeri pidato-pidato dan pertengkaran-pertengkaran. Lebanonku adalah ocehan burung-burung hitam, desiran daun-daun pohon jati dan hawar, serta gema seruling dalam goa dan ceruk.
Lebanonmu tak lain hanyalah tipuan yang bersembunyi di balik keterusterangan palsu, kemunafikan yang ditutupin gaya dan keculasan. Lebanonku adalah kebenaran telanjang yang sangat apa adanya yang tercermin dalam kolam sekeliling air mancur, dan ia hanya melihat wajahnya yang tenang dan bahagia.
lebanonmu terdiri dari hukum-huklum dan pasal-pasal di atas kertas, perjanjian-perjanjian dan fakta-fakta dalam catatan negar. Lebanonku adalah pengetahuan batin, pengetahuan yang dilahirkan dalam misteri-misteri kehidupan, dan hasrat yang bangun menyentuh lebut tepi-tepi ketidaksadaran.
Lebanonmu adalh seorang tua yang hanya memikirkan dirinya sendiri sambil mengusap janggut dan mengerutkan keningnya. Lebanonku adalah seorang muda yang berdiri bagai benteng, tersenyum bagai fajar, dan mengerti orang-orang lain seperti dia mengerti dirinya yang terdalam.
Lebanonmu terkadang memisahkan diri dari Syiria, lalu menempelkan dirinya kembali. ia menipu kedua pihak dan habis dibagi oleh keduanya. Lebanonku tidak memisahkan diri dan tidak menempelkan diri, dan tidak mengenal takluk maupun kalah.
Bagimu Lebanonmu, bagiku Lebanonku.
Ambillah Lebanonmu dan anak-anaknya.
Dan siapakah anak-anak Lebanonmu?
Biarlah kotoran rontok dari matamu agar aku perlihatkan padamu realitas anak-anakmu. Mereka adalah yang melihat jiwa-jiwa mereka dilahirkan dirumah sakit, rumah sakit Barat.
Mereka adalah yang melihat piiran-pikiran mereka yang terbangun dalam lengan-lengan si kikir yang berlagak dermawan.
mereka adalah tongkat yang bengkok kesana-kemari tanpa dikehendaki, yang bergetar pagi dan petang tanpa disadari. Mereka adalah perahu yang mencoba menerjang laut yang bergelora tanpa layar dan bilah kemudi, sementara nahkodanya tak lain adaah monster-monster goa. Dan bukankah setiap ibukota Eropa itu adalh goa yang oenuh monster?
Di kalangan mereka sendiri, mereka kuat dan fasih. Tetapi dihadapan bangsa Eropa, mereka lemah dan bisau.
Di mimbar-mimbar dan koran-koran, mereka itu liberal, pemburu, dan berapi-api. Tetapi di hadapan orang-orang Barat, mereka jinak dan terbelakang.
Mereka yang berkoak bagai katak ketika membual, dan mereka telah terlepas dari musuh lam yangkejam tetapi musuh itu tetap terkandung dalam daging mereka.
Mereka yang tidak melihat bencana itu menguras kantong-kantong mereka. Dan bila mereka bertemu dengan seseorang yang jiwanya lapar, mereka akan menertawainya dan menghindarinya, mempermalukannya seperti bayangan yang mengembara ke seluruh dunia bayangan.
Mereka adalah budak, yang rantai belenggunya telah berkarat dan menjadi aus dimakan waktu, dan percaya bahwa mereka telah benar-benar dibebaskan.
Seperti itulah anak-anak Lebanon!
Siapa di anatara mereka yang akan mewakili kekuatan batu-batu Lebanon, kemuliaan gunung-gunungnya, kejernihan airnya, dan keharuman udaranya?
Siapa di antara mereka mampu berkata, “Kalau aku mati, aku akan meninggalkan negara yang sedikit lebih baik ketika aku lahir?”
Adakah satu saja di antara mereka yang akan berani berkata, “Sungguh, kehidupanku adalah setetes darah dalam urat nadi Lebanon, dan secercah senyum di bibirnya?”
Seperti itulah anak-anak Lebanonmu!
Betapa agungnya mereka terlihat dimatamu, dan betapa kecilnya di mataku.
berhentilah sejenak dan bukalah matamu lebar-lebar, sehingga bisa kuperlihatkan padamu realitas anak-anak Lebanonku.
mereka adalah pembajak-pembajak tanah yang mengubah tanah-tanah gersang menjadi taman-taman dan kebun buah-buahan.
Mereka adalah gembala-gembala yang menggiring kawanan mereka dari satu lembah lain sehingga menjadi gemuk dan berkembang biak, lalu daging mereka tersedia untuk meja kalian dan bulu mereka untuk pakaian bagi tubuh kalian.
Mereka adalah para pekerja kebun anggur yang memeras buah anggur untuk membuat minuman anggur dan jelinya.
mereka adalah para bapak yang menjaga pohon murbeinya danpara ibu yang memintal benag sutranya.
Mereka adalah orang-orang yang memanen gandum, yang istri-istrnya mengumpulkan hasilnya dengan tangan-tangan mereka.
mereka adalah para penyair yang mencurahkan jiwa mereka ke dalam tangisan dan lagu tanah-tanah sebelah timur Laut Tengah.
mereka adalah yang meninggalkan Lebanon dalam keadaan miskin, yang memiliki api dalam hati dan kekuatan dalam lengan-lengan mereka, dan ketika kembali, tangan-tangan mereka penuh ssak dengan kekayaan bumi dan kepala mereka dimahkotai bunga kemenangan.
Mereka adalah penakluk di mana pun mereka bermukim, dan para pemikat di mana pun mereka berada.
Mereka adalah yang dilahirkan dalam gubuk-gubuk dan mati dalam rumah pengetahuan.
Seperti itulah anak-anak Lebanon!
Mereka adalh obor-obor yang menentang angin dan garam yang menundukkan waktu.
Mereka adalah yang maju dengan langkah-langkah tegap ke arah kebenaran, keindahan, dan pemenuhan.
Apa yang tersisa dari Lebanonmu dan anak-anaknya pada akir abad ini?
katakan padaku, apa yang akan engaku wariskn pada masa dapan selain manusia-manusia garang, pengkhayal, dan pecundang?
Apakah engkau berharap waktu akan menyimpan sisa-sisa pengingkaran-pengingkaran culas, kecurangan, dan tipu dayamu dalam kenangannya?
Apakah engaku percaya bawa udara di atas menyerap bayangan-bayangan kematian dan bau-bau busuk dari kuburan?
Apakah engkau masi memuja ilusi dan menyatakan bahwa kehidupan menutupi ketelanjangannya dengan gombal?
Aku katakan ini padamu, dan kebenaran adalah saksiku.
Biji zaitun terkecil yang ditanamkan oleh orang desa di kaki Gunung Lebanon akan lebih panjang usianya daripada semua kegiatan dan petualanganmu. Dan bilah bajak dan bajak yang ditarik oleh sapi-sapi pada lereng-lereng Lebanon itu lebih berharga dan lebih terhormat ketimbang gabungan mimpi-mimpi dan ambis-ambisimu.
Aku katakan ini padamu, dan naluri alam semesta mendengarkan aku.
Nyanyian gadis kecil yang mengumpulkan bunga-bunga di lembah-lembah Lebanon akan hidup lebih lama ketimbang pernyataan-pernyataan dari yang paling berkuasa dan paling mulia diantara kamu.
Aku katakan ini padamu, bahwa engkau tidak berharga. dan hendaknya engkau ketahui, kejijikanku terhadapmu akan berubah menjadi iba dan kasihan. Tapi engkau tidak tahu itu sama sekali.
Bagimu Lebanonmu, bagiku Lebanonku.
Engkau punya Lebanonmu dan anak-anaknya, dan berpuas hatilah dengan itu. Oh, jika saja engkau berhasil meyakinkan saudara-saudaramu bahwa ia sama kosongnya dengan gelembung udara!
Sedangkan aku? Aku yakin Lebanonku dan anak-anaknya, dan dalam keyakinanku, bertahtalah kesunyian segar dan ketentraman.