Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. NOTE : Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Balik Tatah, Tanpa Hikmah

terkucilkan puing derita
kubik warna teratai jingga
lukis malam tengah menjiwa
sujud kusut berselimut air mata
terarah terjilat kejujuran semu
bingkai dunia terbutakan semakin berliku
tutup mata bibir membisu
diam kaku hati pun kelu
tragedi badut-badut dunia
dan segala tipu fatamorgana
berjingkat sepatu-sepatu nanda
mengelak haluan nirwana
kutepuk duduk neraka di kamar
sejuntai darah terhambur bersama mawar
kan habis waktu takkan bisa bersandar
hakikat waktu semakin memudar
di jelang waktu beri Sang Penggetar

6 Bait Gelora

Rinduku pada tanah basah setelah hujan,
Keringnya bibir setelah berkhutbah,
Pada lukisan indah abstrak-abstrak makna,
Pada ukiran patung-patung kebijaksanan

Kupahat rasa percaya, dengan palu-palu pilu,
Seakan yakin berenang-renang dahulu,
Berucap bisu tengan yang gemetaran,
Seolah mengatakan, takkan ada yang ketepian.

Gemericik air di sungai-sungai,
Halusnya air terkenang sentuh,
Masihkah aku tetap membeku,
Seolah dunia tak pernah berpihak padaku.

Kucecar memar kotak kenangan,
Mencari jemari-jemari terkoyak,
Lukisan mimpi kan kukuas
Meski sakit takkan berjeda

Aku takut bermain rima,
Karna warna tak hanya dua
Kembali kusita harap-harap dunia
Layaknya remaja kehilangan tua

Aku cinta pada surat malam,
Yang menitipkan bunga-bunga kasih,
Kado bintang-bintang dan bulan,
Pengantar mimpi selama mimpi..

Cerita si Pecundang

Aku adalah bentuk kontrol yang salah. Di umur 17 tahun ini, kuanggap diriku telah menemukan jati diri yang sebenarnya. Tapi kurasa itu semua salah. Semua sangkaku salah. Semakin banyak aku membaca buku kehidupan, semakin banyak kutemukan perspektif hidup yang berbeda, dan dari situlah aku menyadari, aku tak pernah punya perspekstif sendiri akan kehidupan.

Apa yang kulakukan layaknya seorang pemuda yang gagal dalam kehidupan (pengangguran). Banyak bermimpi indah tanpa banyak bertindak. Bermimpi, ya bermimpi, itulah salah satu bagian dari jadwal hidupku sehari-hari. Yang kulakukan setiap hari hanyalah bermimpi banyak, dan menatap layar komputer berlama-lama. Apakah aku berkerja? Tidak. Ya, mungkin sekali-sekali. Selebihnya hanya dibungkus kertas dominan akan permainan dan ilmu-ilmu yang tak berguna.

“Apalah guna kau melakukan semua itu?”, jika ada yang bertanya. Dan aku tak pernah menjawab. Bukan karena tak bisa. Itu adalah cerita panjang yang kan berbalik menusukku lebih dari pertanyaan yang telah diajukan. Aku yang samasekali takpunya jiwa sosial, hanya bisa mengurung keinginan mempunyai segudang teman dalam kotak-kotak mimpiku. Ya itulah aku. Kesepian yang bertopeng dan ingin ditutupi lebih. Dan itulah pelampiasan akan kesepian yang meradang.

Lebih dari itu, aku terlalu paranoid untuk memiliki teman. Sindrom yang terjadi ketika aku memiliki seseorang, itu, bagiku sangat mengerikan. Awalnya, seperti biasa, dengan kesombongan/keangkuhanku, sedikit yang mau berkomunikasi denganku. Dan jujur, cara berkomunikasiku juga tergolong susah untuk dicarikan sinonim. Aku akan lebih banyak berkomunikasi dengan gaya 5-10 tahun lebih tua dari mereka atau lebih muda. Dengan wanita, entah kenapa, aku selalu tak ingin terlihat lemah, walaupun pada akhirnya justru kelemahanku semakin terlihat maka pastilah gaya dewasa tercipta. Dan dengan sesama lelaki, justru entah kenapa, sikapku justru kekanak-kanakan, kenapa lagi? Aku hanya ingin diterima normal. Dan pastilah aku bergaya balita.

Huh, buatku menciptakan kata “dengan”itu sangat susah. Karena itu aku adalah orang yang sangat mengagumi takdir. Aku menunggu takdir bertemanku datang, takdir menjadi pintar, takdir membuat puisi, takdir bertemu kekasih, takdir dimarahi seseorang, dan takdirku untuk mati. Dan untuk yang terakhir aku yakin. Ya, sangat yakin. Manusia-manusia penyakitan seperti diriku takkan mempunyai umur yang lama.

Meskipun dengan keyakinan kematian terus membuntutiku, tak pernah sekalipun aku mampu menebas keinginan untuk bermaksiat. ???. Aku menyadari ketika aku bermaksiat. Aku sadari itu penuh, dan aku menikmatinya dengan lebih penuh penghayatan. Seakan aku memang tak punya takdir kesurga.

Ada saatnya aku bosan menikmati dosa-dosa itu, dan aku pun terlelap dalam pahala-pahala yang aku bingung apakah aku pantas melakukannya. Aku merasa telah mempemainkan agama Tuhan. Aku sembahyang, tapi ketika pulang aku bergelimang dosa, Dia tahu, dan aku pun tahu Dia tahu.

Kembali pada komunikasi. Jiwaku yang penuh kesombongan buatan, yang bagiku sendiri merupakan ujian bagi orang-orang yang pantas mengenalku, tak lebih dari tirai tipis yang tak terlihat. Bagi mereka yang mengenalku aku adalah orang yang humoris ketika dikenal lebih dalam, pribadi dewasa yang terkurung dalam wajah balita (benarkah??), aku tak tahu. Tapi sekalipun, aku memang tak pernah tahu tujuanku berdiri.

Apa yang sebenarnya kucari? Kuinginkan? Hatiku yang polos lama-lama terkikis oleh batu kehidupan. Hatiku yang yang sekarang cacat! CACAT! Penuh luka dan goresan yang menyakitkan. Penuh kesombongan, kebohongan, dan kata-kata manis yang berbahaya.

Keberi satu contoh. Aku sangat menginginkan suatu kapasitas yang manusia modern menyebutnya dengan “pacar”. Ya, lebih tepatnya kekasih. Namun dalam agama yang aku anut, kata pacar itu akan menjurus kepada hal-hal negative yang mereka sebut dengan “zina”. Zina mata, zina hati, dan zina-zinaan lainnya. Setidaknya itulah yang kucari setelah wanita yang kucintai pergi. Mama.

Aku tahu aku punya banyak nafas yang memerhatikanku. Dan aku tahu aku bukan salah satu terpenting dan teratas. Karena itulah, aku terlalu banyak memiliki kasih sayang yang tak terlampiaskan. Dan kali ini, aku menangis. Manusia bisa saja hidup tanpa uang, tapi tanpa kasih sayang, kau tak lebih dari jiwa kering kerontang.

Hatiku miris, dunia ini seakan ditakdirkan memiliki satu garis lurus. Dan siapapun takkan bisa mencari arah lain. Dan aku, aku ini adalah benang rapuh yang berusaha selurus-lurusnya. Dan betapapun aku berusaha itu terjadi, justru aku tak mengenal diriku sendiri, dan semakin dekat untuk “terputus”.

Aku pernah memiliki seorang teman. Ya, “pernah”. Aku tak tahu aku masih menganggapnya teman dan sebaliknya atau tidak. Siapapun akan menyangka aku jatuh cinta. Kenapa? Karena ia berbeda jenis denganku. Aku terlalu overkasih sayang. Lebih-lebih dari seorang pacar. Penyakit yang pasti melanda setiap ada orang yang masuk kedalam sumur jiwaku. Akibatnya, rasa ketergantungan tercipta, rasa ingin terus diperhatikan, dan ingin terus bersama. Kuakui, siapa saja tak pantas menerima sikapku, karena itu adalah bentuk ungkapan kasih saying orang dewasa. Tak hanya terjadi sekali. Sudah untuk yang kedua!!

Aku tak mengerti, yang aku takutkan hanyalah kehilangan. Dan semakin kutakutkan, justru itulah yang terjadi. Kini semua sepi, kembali sendiri, seiring detik yang takkan pernah berhenti.

Jangan beri aku nasihat. Dalam kepalaku lebih dari sejuta nasihat terbaik yang pernah ada daripada yang akan orang berikan kepadaku. Lebih baik jitak kepalaku. Biar aku kembali teringat akan rasa sakit.

Aku merasa paling berbeda. Bukan beda dalam arti “lebih”, ini “kurang”. Aku terlalu banyak memiliki waktu luang. Sekalipun waktu adalah uang. Terlalu luang berarti dirimu miskin. Dan seluang-luangnya waktu itu. Itulah waktuku untuk merenung. Merenungi nasibku tak tak punya arah. Mimpi-mimpi yang terus bergairah, dan nyata realita yang tak bisa searah. Jiwa malas terus menjadikanku seorang lemah. Dan memang, aku adalah pecundang yang kalah.

Beras Grateesss….gratessss cuy!!! tpi bukan buat loe!!

FreeRice.com-Siapa yang mau beras gratis? Pastinya banyak yang mau :) Tapi beras gratis ini bukan untuk kita, melainkan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Bagi yang pengen sodaqoh (sedekah) tapi tidak ada barang yang mau disedekahkan atau tidak tahu kemana kita mau sedekah, situs ini sangat layak untuk dikunjungi. Karena banyak diantara kita yang ragu saat sedekah ke lembaga-lembaga tertentu. ‘Bener ga ni nyampe ke sasaran?’
Seperti kata pepatah Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Situs ini mengajak pengunjungnya untuk bersedekah dengan kemampuan yang dimiliki yaitu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bahasa Inggris. Dan setiap anda menjawab 1 pertanyaan dengan benar, mereka akan menyumbangkan 10 butir beras. “Cuma 10 butir beras?” Ya, 10 butir beras tiap 1 pertanyaan benar. Jadi jika kita bisa menjawab pertanyaan -sederhana- sebanyak 10 pertanyaan saja, kita sudah menyumbang 100 butir beras. Jangan nilai seberapa besar kita menyumbang, tapi lihatlah seberapa besar kita ikhlas. Situs ini didukung oleh United Nations World Food Program.
Semoga sedikit info ini akan bermanfaat…

Tentang Menangis

Entah sudah berapa lama saya tidak menangis, lama sekali. Berulang kali membaca dan mendengarkan kisah-kisah manusia sejati namun itu hanya sampai membasahi hati saja. Saya sudah mengambil kesimpulan bahwa hati ini beku.

Tapi entah kenapa malam ini, sesuatu terjadi. Awalnya saya hanya buka-membuka buletin yang belum terbaca. Sampai suatu buletin yang saya tahu penulisnya suka berpuisi. Di akhir tulisan, “bukankah mata diciptakan untuk menangis.”

Sudah kebiasaan saya ingin berdialog/berdiskusi, tapi bukan tanpa dasar. Saya pergi ke Paman Google, lalu saya bertanya “Untuk apa menangis?”. Dan akhirnya, saya dibawa ke suatu tempat yang benar-benar membuat sesuatu itu tumpah, dan pada akhirnya inilah ceritanya……..sebuah bentuk cinta tertinggi, Kasih.

==================================================

Aku Menangis Untuk Adikku Menangis 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
“Ayah, aku yang melakukannya! ”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? “Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.

Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata- kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari “I cried for my brother six times”

Terlalu Jauh

Belajarlah,
Dari mimpi dan realita
Percayalah,
Akan cita suatu masa
Takkan datang,
Jika hanya berdiam saja
::
Duduk, dan dengarkanlah
Akan ada suatu masa,
Dimana kita tak dapat bicara
Akan ada suatu masa,
Dimana aku tak dapat melindungimu lagi,
Akan tiba suatu masa,
Dimana bahagia dan cinta adalah beda
::
Perlahan, pergilah ke taman bunga
Petik yang paling indah
Perhatikan,
Ketika hati beresonansi
Cermati,
Ketika akal pikiran ditutup
Pikirkan,
Sesuatu hanya dari hati
::
Kebahagiaan tidak dari akal
Kebahagiaan kita emosi
Kebahagiaan kita belajar
Akan sesuatu yang nya indahnya
::
Perlahan, pergilah ke taman cinta
Akan ada banyak bidadari
Tidak cukup waktu memilih
Untukmu dia akan datang
Belajarlah akan cinta
Bukan hanya tuk diucapkan saja
::
Dan sampai nanti saatnya,
Ketika kita terlalu jauh tuk berjumpa
Ketika jasad tiada lagi berguna
Pastikan bahagia telah terkenang
Dan cinta telah menyatu bersama
Aku akan melepasmu dengan tenang

Biar Rindu Bernada

Kau selipkan bulir sepi
Atas nama bingkai malam
Dan sejuta buih rindu
::
Memilin perih yang tertunggu
Dan syahdu menikmatinya
Tertunggu kata rindu di pelupuk kalbu
::
Kau selipkan nada dalam catur dilema
Akan ada pelangi tanpa hujan
Akan ada matahari kala malam
::
Kata rindu,
Belari secepat kilat,
Untuk sampaikan padamu
Hakikat yang terkubur
Dan tak dapat dihibur
::
Memanggil panggil irama gundah
Suatu ketika bahagia tertawan
Kenapa??
Aku rindu dan kuselipkan melatidisitu

Daulat Bunga

Hanyalah keindahan..
Untuk dipetik..
Ditanam kembali..
::
Sebuah kesederhanaan..
Untuk dinikmati..
Lalu layu dan mati..
::
Sekedar hiburan..
Untuk diamati..
Lalu dilupakan..
::
Penghias taman sasana..
Sejuta warna..
Dan sejuta rupa..
::
Bungaku, bunganya..
Daulat bunga..
Hanya tinggal kata..
::
Bungaku, bunganya..
Tebaran dandelion..
Dan tulip yang merekah
::
Bungaku, bunganya..
Semerbak melati..
Dan anggunya bunga matahari..
::
Apa bungamu dan daulatnya??

Salah faham

Hati tak tenang..
Gurauan syaitan..
Menjadi alasan..
Perasaan yang gelisah..
Curiga tak beralasan..
Menjadi alasan..
Logika diputar..
Tanpa dasar pijakan..
Lalu menjadi alasan..
Untuk salah faham..

« Previous entries